Menghadirkan Petugas Kesehatan di Keluarga

Oleh Rinaldi R.

MASALAH kesehatan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian, walaupun dalam perkembangannya sudah semakin membaik. Negara ini masih dilanda beberapa permasalahan kesehatan yang menjadi tantangan utama di sektor kesehatan. Permasalahan kesehatan tersebut telah diatasi dengan berbagai upaya pendekatan program salah satunya “Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga”.

Program tersebutn merupakan satu terobosan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang berperilaku sehat, hidup dalam lingkungan yang sehat dan sadar akan pentingnya kesehatan, serta menyiasati permasalahan akses di daerah yang sulit dijangkau. Program tersebut telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa pendekatan keluarga harus dilakukan untuk melengkapi dan memperkuat pemberdayaan masyarakat. Sebagai contoh bukti tentang pentingnya pendekatan keluarga dalam penanggulangan stunting (panjang badan kurang dari 48 cm) dan pendekatan dalam pengendalian penyakit tidak menular.

Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 menemukan bahwa proporsi bayi yang lahir stunting adalah sebesar 20,2%, sementara pada kelompok balita terdapat 37,2% yang menderita stunting. Ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan dari saat lahir ke balita, terjadi pertumbuhan yang melambat, sehingga proporsi stunting justru bertambah. Penanggulangan stunting harus dilakukan deteksi dan intervensi sedini mungkin dengan melakukan pemantauan pertumbuhan secara ketat melalui penimbangan bayi/balita di Posyandu setiap bulan.

Data ini menunjukkan bahwa proporsi balita yang tidak pernah ditimbang selama 6 bulan terakhir cenderung meningkat, yaitu dari 25,5% pada 2007 menjadi 34,3% pada 2013. Jika kita hanya mengandalkan Posyandu, hanya sepertiga jumlah bayi dan balita yang terpantau, sehingga mereka yang tidak datang ke Posyandu harus dikunjungi ke rumahnya. Pendekatan keluarga harus dilakukan, bila kita ingin deteksi dini stunting terlaksana dengan baik.

Begitu juga halnya dengan pendekatan keluarga dalam pengendalian penyakit tidak menular. Satu penyakit tidak menular yang cukup penting adalah hipertensi (tekanan darah tinggi). Prevalensi hipertensi pada orang dewasa, menurut Riskesdas 2013 adalah 25,8% atau sama dengan 42,1 juta jiwa.

Pendekatan Keluarga
Dari sejumlah itu baru 36,8% yang telah kontak dengan petugas kesehatan, sementara sisanya sekitar 2/3 tidak tahu kalau dirinya menderita hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa bila tidak menggunakan pendekatan keluarga, 2/3 bagian atau sekitar 28 juta penderita hipertensi tidak akan tertangani. Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa pendekatan keluarga mutlak harus dilakukan bila kita ingin pengendalian penyakit hipertensi berhasil.

Kiranya sangat tepat Kementerian Kesehatan RI dalam menetapkan pendekatan keluarga untuk mencapai keberhasilan pembangunan kesehatan. Pendekatan keluarga adalah satu cara puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi seluruh keluarga (total coverage).

Puskesmas tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kesehatan di dalam gedung, melainkan juga diluar gedung dengan mengunjungi keluarga di wilayah kerjanya. Sehingga program pendekatan keluarga ini dapat merubah cara pandang masyarakat selama ini bahwa tidak perlu datang ke puskesmas kalau tidak sakit.

Di sisi lain, petugas puskesmas menganggap bahwa kalau tidak ada yang datang ke puskesmas, maka masyarakat sudah sehat. Sehingga ada anggapan bahwa puskesmas identik dengan tempat berkumpulnya orang-orang sakit. Anggapan seperti ini harus dapat diubah dengan program pendekatan keluarga.

Program pendekatan keluarga yang dimaksud sebenarnya bukanlah program baru, tetapi merupakan pengembangan dari kunjungan rumah oleh puskesmas dan perluasan dari upaya perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas), yang dilakukan oleh tenaga puskesmas secara rutin dan terjadwal. Pendekatan keluarga sebagai satuan terkecil masyarakat dinilai akan lebih efektif dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan.

Pendekatan keluarga adalah pendekatan pelayanan puskesmas yang menggabungkan upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM) tingkat pertama, secara berkesinambungan dengan didasarkan kepada data dan informasi dari profil kesehatan keluarga (prokesga). Ini berguna untuk mengenali secara lebih menyeluruh (holistic) masalah-masalah kesehatan di dalam keluarga.

Kunjungan rumah yang dilakukan juga dapat menjadi sarana penyampaian pesan-pesan kesehatan kepada individu-individu dalam keluarga. Maka petugas kesehatan dapat memberikan leaflet atau flyer tentang keluarga berencana, pemeriksaan kehamilan, asi eksklusif, imunisasi, gizi seimbang, pencegahan penyakit menular, pencegahan penyakit tidak menular, bahaya merokok, cara mencuci tangan yang baik, jaminan kesehatan Nasional, dan lain-lain.

Harus Lebih Proaktif
Puskesmas sebagai ujung tombak dari pelayanan kesehatan milik pemerintah, harus lebih proaktif lagi dalam melaksanakan program program kesehatannya. Program preventif dan promotif harus kembali digalakkan. Melalui pendekatan keluarga, diharapkan puskesmas dapat menangani masalah-masalah kesehatan individu secara siklus hidup (life cycle).

Ini artinya penanganan masalah kesehatan dilakukan sejak fase dalam kandungan, proses kelahiran, tumbuh kembang masa bayi-balita, usia sekolah dasar, remaja, dewasa sampai usia lanjut. Fokusnya adalah pada kesehatan individu-individu dalam keluarga. dimana penerapan pelayanan kesehatan harus terintegrasi dan berkesinambungan (continuum of care).

Program pendekatan keluarga yang dilaksanakan puskesmas, secara langsung juga akan menguatkan manajemen puskesmas secara internal, yang mencakup sumber daya manusia, pendanaan, sarana prasarana, program kesehatan, sistem informasi dan jejaring dengan pihak terkait di lingkup wilayah kerjanya, seperti puskesmas pembantu (pustu), puskesmas keliling (pusling), pos pelayanan terpadu (posyandu), bidan desa, dan lain-lain.

Untuk keberhasilan dalam pencapaian program ini, tentunya memerlukan pemahaman dan komitmen yang sungguh-sungguh, sistematis dan terencana dari seluruh tenaga kesehatan di puskesmas. Kesamaan pemahaman dan komitmen yang kuat akan menghasilkan tercapainya target area prioritas/sasaran dari program ini. Komitmen untuk bekerja di dalam dan di luar gedung puskesmas tentu juga perlu didukung oleh berbagai pihak, Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten/kota sebagai induk dari puskesmas.

Satu bentuk dukungan dari Dinkes adalah melalui alokasi anggaran berupa dana operasional puskesmas. Walaupun puskesmas sudah memiliki dana kapitasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang dapat digunakan untuk pelaksanaan program ini, dukungan alokasi anggaran dari Dinkes tentu juga diharapkan tetap didapatkan. Terlebih kegiatan kunjungan rumah yang memerlukan pengorbanan ekstra dari petugas puskesmas.

Kunjungan rumah yang dilakukan harus mempertimbangkan jumlah petugas puskesmas, jumlah keluarga di wilayah kerja puskesmas, kondisi geografis dan juga pendanaan. Bila diperlukan, puskesmas dapat merekrut petugas tambahan dari kader-kader kesehatan di wilayah kerjanya. Rekrutmen ini tentu merupakan hasil analisis kebutuhan dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas.

Sekali lagi, terobosan baru dalam pembangunan kesehatan berupa pendekatan keluarga ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Sampai kapan, Indonesia harus terus-menerus berkutat dengan persoalan-persoalan kesehatan yang mendasar, seperti tingginya angka kematian ibu/angka kematian bayi, gizi buruk, penyebaran penyakit menular dan tidak menular?

Maka pertanyaan tersebut, mungkin mampu dijawab dengan keberhasilan “Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dengan menghadirkan petugas kesehatan di tengah keluarga”. Semoga!

* Rinaldi R., bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), saat ini sedang studi program Magister Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: rinaldi76@mhs.unsyiah.ac.id

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2018/01/04/menghadirkan...

Bagikan Publikasi Mahasiswa ini

Publikasi Mahasiswa Lainnya