Menuju Indonesia Bebas Penyakit Kaki Gajah

Oleh Erna Masdiana

PENYAKIT kaki gajah (filariasis) merupakan satu penyakit yang termasuk endemis di Indonesia. Seiring dengan terjadinya perubahan pola penyebaran penyakit di negara-negara sedang berkembang, penyakit menular masih berperan sebagai penyebab utama kesakitan dan kematian.

Jumlah penduduk di dunia terdapat 1,3 miliar yang tersebar lebih dari 83 negara memiliki risiko tertular filariasis. Penderita filariasis di Indonesia pada 2009 dilaporkan sebanyak 11.914 kasus. Filariasis termasuk penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran kelenjar getah bening.

Kini, isu trend seputaran kaki gajah sedang marak dan meningkat di Indonesia. Pemerintah sangat berharap penyakit kaki gajah ini dapat punah, dan Indonesia bebas dari penyakit menular tersebut. Penyakit kaki gajah ini disebabkan oleh cacing filari (microfilaria), yang dapat menular dengan perantara nyamuk sebagai vector.

Penyakit ini dapat menimbulkan cacat seumur hidup berupa pembasaran kaki, lengan dan alat kelamin, serta berdampak terhadap psikologis dan perkembangan jiwa penderita dan keluarganya. Hal ini juga menyebabkan penderita tidak bisa bekerja secara optimal, bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain serta menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara.

Di daerah perkotaan, parasite ini ditularkan oleh nyamuk culex quenquefasatus, sedangkan di pedesan vektornya berupa nyamuk anopheles atau aedes, masa pertumbuhan parasite dalam nyamuk selama dua minggu, pada manusia belum pasti diperkiran 7 bulan.

Tanda dan gejala penyakit filariasis ada dua, yaitu akut demam 3-5 hari, pembengkakan kelenjar getah bening, pembesaran tungkai, lengan, alat kelamin, dan cronis yaitu pembesaran menetap pada lengan, tungkai, dan alat kelamin.

Penularan filariasis
Penularan filariasis dapat terjadi bila ada tiga unsur, yaitu: Pertama, adanya sumber penularan, yakni manusia atau hospes reservoir yang mengandung mikrofilaria dalam darahnya; Kedua, adanya vektor, yakni nyamuk yang dapat menularkan filariasis, dan; Ketiga, manusia yang rentan terhadap filariasis.cara pemeriksaan dapat

Aceh merupakan daerah yang memiliki kasus penyakit kaki gajah nomor 2 di Indonesia, setelah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu sebanyak 2.375 kasus yang tersebar di 21 kabupaten/kota. Menurut Barodji dkk (1990-1995) wilayah Kabupaten Flores Timur merupakan daerah endemis penyakit kaki gajah yang disebabkan oleh cacing Wuchereria bancrofti dan Brugia timori.

Selanjutnya oleh Partono dkk (1972) penyakit kaki gajah ditemukan di Sulawesi, dan Kalimantan oleh Soedomo dkk (1980), menyusul di Sumatera oleh Suzuki dkk (1981). Penyebab penyakit kaki gajah yang ditemukan di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera tersebut adalah dari spesies Brugia malayi.

Pemerintah Indonesia berfokus memberantas filariasis dengan pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis untuk 31,4 juta jiwa sampai 2020 mendatang. Pemberantasan penyakit kaki gajah berfokus pada program Belkaga (Bulan Eliminasi Kaki Gajah), yang merupakan satu prioritas Nasional dalam memutuskan penyakit menular, sesuai dengan Perpres RI No.7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2004-2009.

Program pemberantasan kaki gajah ini telah dilaksanakan sejak 1975, diawali dari daerah endemis tinggi. Program penatalaksanaan kasus filariasis merupakan satu kewenangan wajib pemerintah daerah sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan RI No.1582/MENKES/SK/XI/2005 tanggal 18 November 2005.

Dalam program pemberantasan filariasis secara global, Indonesia sepakat melakukan kegiatan yaitu memutuskan mata rantai penularan filariasis dengan pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis di daerah endemis selama lima tahun berurut-turut, mencegah dan membatasi kecacatan dengan penatalaksanaan kasus filariasis mandiri dan program ini dilaksanakan pada Oktober setiap tahunnya, maka itu ditetapkan sebagai program Belkaga.

Eliminasi filariasis
Kebijakan eliminasi penyakit kaki gajah (filariasis), yaitu melakukan eliminasi filariasis yang merupakan prioritas Nasional pemberantasan penyakit menular dan kegiatan pokok dalam eliminasi dengan melakukan pengobatan massal di daerah endemis serta penatalaksanaan kasus klinis (mandiri). Disertai dengan satuan lokasi pengobatan massal (implementation unit) dengan sasaran kabupaten/kota dan juga melakukan pencegah penyebaran filariasis.

Dalam pemberantasan filariasis dilakukan beberapa strategi eliminasi penyakit kaki gajah (filariasis): Pertama, memutus rantai penularan filariasis, pengobatan massal di daerah endemis; Kedua, mencegah dan membatasi kecacatan dan penatalaksanaan kasus klinis filariasis; Ketiga, memperkuat kerja sama lintas batas daerah dan negara, dan; Keempat, memperkuat surveilans dan mengembangkan penelitian.

Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan, serta rehabilitasinya.

Dalam hal ini, diperlukan tim monitoring bagi program yang akan dijalankan atau dilaksanakan demi keberhasilan kebijakan dengan mengawasi atau memantau sejauh mana tingkat keberhasilan program Belkaga telah dilaksanakan, serta mendeteksi sedini mungkin kekurangan dari program tersebut.

Dengan demikian, pemerintah dapat mengubah sistem atau menambah sumber daya yang diperlukan, sehingga program ini dapat berjalan dengan baik dan Indonesia dapat terbebas dari penyakit kaki gajah (filariasis) secara keseluruhan. Semoga!

* Erna Masdiana, mahasiswi program Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, staf Akper Kesdam Iskandar Muda Lhokseumawe. Email: erna.masdiana@yahoo.com

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/12/02/menuju-indon...

Bagikan Publikasi Mahasiswa ini

Publikasi Mahasiswa Lainnya