Optimalisasi Program Germas

Oleh Siti Maria Ladia PS

INDONESIA sebagai satu anggota PBB turut menindaklanjuti kebijakan global Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dengan mengeluarkan Perpres No.59 Tahun 2017 tentang SDGs dan tindak lanjutnya. SDGs merupakan kelanjutan dari program Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada 2015 lalu. Dalam Perpres tersebut pemerintah mengupayakan untuk mengakhiri kemiskinan, meningkatkan kesehatan masyarakat, mempromosikan pendidikan dan memerangi perubahan iklim.

Dari beberapa turunan terhadap capaian TPB, ada poin penting yang menjadi perhatian kita yaitu peningkatan kesehatan. Menteri Kesehatan telah menyusun Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019 dengan mengusung Program Indonesia Sehat. Beberapa agenda pun dikoordinasikan hingga ke tingkat provinsi, di antaranya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Di Aceh program ini telah dirumuskan sedemikian rupa oleh Dinas Kesehatan Aceh bersama seluruh pihak terkait.

Program ini merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Tujuan dari program ini untuk menurunkan angka penyakit, menurunkan beban biaya pelayanan kesehatan, meningkatkan produktivitas penduduk, dan menekan beban finansial masyarakat untuk pengeluaran kesehatan (Dinkes Aceh, 2017).

Program Germas
Program Germas berfokus pada tiga kegiatan yaitu melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit dalam sehari, makan buah dan sayur setiap hari, dan memeriksakan kesehatan secara rutin. Ini bukan hal baru, karena kegiatan-kegiatan yang diusung dalam program ini telah lama kita dengar dari berbagai kampanye kesehatan. Jika diibaratkan sebuah produk, maka program ini memiliki kemasan baru dengan penyesuaian komposisi yang lebih menjual. Masyarakat saat ini sudah mulai sadar akan pentingnya upaya preventif (pencegahan) dibanding kuratif (pengobatan). Hal ini mugkin dipicu oleh meningkatnya angka penyakit menular maupun tak menular di masyarakat.

Seiring dengan meningkatnya mobilitas dan gaya hidup, maka kemunculan berbagai penyakit pun meningkat drastis, sehingga mau tak mau pengeluaran untuk biaya pengobatan pun tak terelakkan, meskipun saat ini pemerintah telah banyak membantu melalui BPJS. Cost effect diyakini menjadi satu alasan masyarakat untuk mulai sadar akan pentingnya kesehatan. Program Germas yang berfokus pada upaya preventif dinilai sangat tepat dalam menjawab kebutuhan masyarakat untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan hidup. Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana mempertahankan program ini dapat terus berlangsung secara konsisten, tidak menghilang begitu saja dan akhirnya terlupakan.

Kegiatan Germas yang berfokus pada upaya preventif membutuhkan penguatan dari berbagai pihak, jika tidak maka program ini akan cepat dilupakan. Dalam hal ini Dinas Kesehatan provinsi yang difasilitasi pemerintah daerah melakukan koordinasi dengan berbagai lintas sektoral pada setiap kegiatan yang diprogramkan. Penguatan program melibatkan berbagai sarana dan prasarana serta sumber daya yang ada dalam masyarakat.

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan dalam pemantapan dan penguatan Germas, di antaranya dengan konsep role model yang melibatkan peran masyarakat secara langsung. Konsep ini sudah mulai diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti yang pernah kita dengar “desa bebas asap rokok” yang ada di beberapa wilayah pulau Jawa, “desa bebas sampah” dan beberapa desa panutan lainnya. Desa-desa tersebut terbilang unik karena mengusung sebuah tema yang disepakati hingga menjadi peraturan yang harus dipatuhi oleh semua warganya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi desa tersebut sehingga membuat pendapatan penduduk desa meningkat karena kunjungan wisatawan. Jika hal ini bisa diterapkan di luar Aceh, tentunya daerah kita pun memiliki potensi yang serupa.

Konsep desa role model ini dapat diterapkan dengan memberdayakan sumber daya yang tersedia, tentunya dilakukan dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah setempat. Satu contoh yang dapat dipertimbangkan adalah model Desa Botani, di mana di sebuah desa terdapat lahan bagi warganya untuk menanam sayur, buah-buahan, dan tanaman obat keluarga. Kegiatan dari warga dan untuk warga, difasilitasi oleh pemerintah daerah yang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, maupun lembaga non pemerintah. Warga mendapatkan pembinaan mulai dari tahap penyiapan lahan hingga pemanenan, di mana setiap kebutuhan operasional diatur sendiri oleh aparatur desa bersama masyarakat.

Hasil tanaman yang didapat diolah sedemikian rupa menjadi sebuah produk pangan yang bergizi, sehingga menjadi potensi sumber daya yang dapat dipasarkan. Tidak hanya model desa botani, ada beberapa model desa lainnya yang dapat diterapkan seperti “desa sadar gizi”, “desa senam sehat”, “desa bebas asap rokok”, “desa bebas sampah”, dan model-model desa lainnya yang dapat dikembangkan dari kreativitas masyarakat, disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia hingga menjadi nilai jual tersendiri bagi daerahnya.

Monitoring dan evaluasi
Saat menjalankan sebuah program tentunya tidak terlepas dari kendala yang ada, maka dari itu penting dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. Monitoring dapat dilakukan dengan berbagai cara saat agenda sedang berjalan untuk menilai hambatan dan kendala yang mungkin terjadi sebagai bahan evaluasi.

Beberapa metode yang dapat dilakukan yaitu observasi, Focus Grup Discussion (FGD), dan survei baik secara langsung maupun online. Proses monitoring dan evaluasi akan lebih efisien jika dilakukan dengan partisipasi masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengidentifikasi dan menganalisis kekuatan serta kelemahan dari program yang dijalankan. Tolok ukur keberhasilan Germas dilihat berdasarkan pencapaian setiap indikator yang keseluruhannya dipusatkan pada perilaku hidup bersih dan sehat.

Dalam menyiasati ketertarikan masyarakat, ada baiknya jika pemerintah memberikan penghargaan kepada desa yang telah berhasil menjalankan Germas, seperti menganugerahkan “Germas Award” setiap tahunnya yang diberikan kepada individu, kelompok ataupun desa yang telah berhasil menjadi inisiator, motivator, dan menjalankan program Germas dengan baik. Ini diharapkan akan memotivasi masyarakat untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam melaksanakan program Germas.

Jika dilakukan secara konsisten, maka perilaku sehat ini akan menetap dan menghasilkan dampak yang positif bagi masyarakat. Dengan meningkatnya status kesehatan masyarakat, nilai produktivitas pun semakin meningkat dan berkualitas sehingga meningkatnya kesejahteraan di segala aspek kehidupan. Jadi, tidak salah jika dikatakan, kesehatan adalah aset terbesar dalam kehidupan yang tak ternilai harganya, karena semua berasal dari tubuh dan jiwa yang sehat.

* Siti Maria Ladia PS, S.Kep, Ns., staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Serambi Mekkah (USM), saat ini sebagai mahasiswa Program Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: ladyarfan89@gmail.com

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/11/16/optimalisasi...

Bagikan Publikasi Mahasiswa ini

Publikasi Mahasiswa Lainnya